Pasifik
TABLOID SUARA PEREMPUAN PAPUA | Jl. Bosnik - Puskopad Tanah Hitam Abepura - Jayapura - Papua | Telp/Fax. (0967) 584154

Jumat, 01 Maret 2013 14:21

Gadis Afghanistan di Bawah Pasungan Nikah Dini

Ditulis oleh  Abida M. Telaee
Taksir item ini
(0 pilihan)

KABUL (IPS) – DI AFGHANISTAN, angka kematian ibu terus meningkat. Rumahsakit-rumahsakit dipenuhi pasien perempuan dan anak gadis yang menderita anemia. Dan di lebih dari 200 distrik, sekolah menengah atas bahkan sama sekali tanpa murid perempuan. Isu-isu ini bukanlah tak bertalian –semuanya adalah produk dari masalah sosial serius di negara berpenduduk 35 juta jiwa ini: pernikahan usia dini.

Menurut Sadia Fayeq Ayubi, kepala bagian kesehatan reproduksi di Kementerian Kesehatan Publik, pernikahan dini (gadis di bawah usia16 tahun) dilarang di Afghanistan, tapi anak-anak seumuran 13 tahun acap dinikahkan dan lebih sering dengan lelaki yang jauh lebih tua.



Pada 2013 saja, 53 pernikahan anak dilaporkan, ujar Nazia Faizi, perwakilan dari bagian hak asasi di Kementerian Urusan Perempuan.

Dan kendati jumlahnya turun dari tahun-tahun sebelumnya, itu tak memberikan gambaran akurat atas masalah itu karena “ada lebih banyak kasus tak dilaporkan di daerah-daerah pedesaan di mana perempuan lebih terkekang dan tak punya hak atau akses ke bantuan hukum,” tambah Faizi.

Pernikahan anak umum terjadi di empat provinsi bagian utara: Kunduz, Sarpol, Faryab, dan Herat, tempat “akses perempuan pada keadilan begitu rendah,” ujarnya.

Anak-anak gadis dipaksa menikah muda. Sebagian besar keluarga merasa malu jika anak putri mereka belum menikah saat berusia 16 tahun. Terkadang, anak-anak gadis juga “diperdagangkan” dalam pernikahan demi menyelamatkan kehormatan keluarga atau sebagai kompensasi atas kejahatan yang dilakukan anggota keluarga gadis tersebut.

Menurut Sayed Salahudin Hashimi, imam Masjid Abu Bakr Siddiq di Khair Khana, Kabul, kendati hukum syariat membolehkan pernikahan gadis pasca-puber, keputusan untuk memilih suami berada di tangan gadis itu sepenuhnya: dia tak boleh dipaksa, dan dia punya hak menolak ajakan untuk menikah. Namun itu mungkin cuma di atas kertas. Kenyataan yang dihadapi jutaan gadis sungguh berbeda.


Keprihatinan Medis

Nayela, remaja dari provinsi Sarpol di Afghanistan utara, kini berada di Rumah Sakit Bersalin Malalai di ibukota Kabul untuk perawatan fistula. Sebuah masalah kesehatan reproduksi serius yang timbul saat melahirkan, fistula umum terjadi di antara perempuan dan gadis yang kurang atau tak mendapat perawatan medis selama kehamilan dan persalinan. Salah satu bentuk paling umum dari kondisi itu, fistula obstetric, dicirikan oleh adanya bagian abnormal antara saluran lahir dan organ internal seperti rektum.

Selain menyakitkan dan memalukan, fistula menyebabkan sejumlah masalah medis seperti tak mampu menahan berkemih, infeksi kandung kemih, mandul, dan gagal ginjal.

Sebagaimana terjadi pada banyak korban fistula, Nayela melahirkan bayi yang meninggal di dalam kandungan dan menderita luka dalam parah berkelanjutan selama proses tersebut. Ketika menjadi jelas bahwa kondisinya berkepanjangan, suami dan ibu mertuanya membawanya keluar rumah guna perawatan, termasuk operasi.

Dr Hafiza Omarkhail, kepala dokter di Rumahsakit Bersalin Malalai, tempat Nayela mendapat perawatan, mengidentifikasi fistula “masalah akut bagi perempuan” di sini, yang diperburuk oleh pernikahan dini.

Ayah Nayela meninggal saat dia masih sangat muda. Saat dia masih remaja, kakeknya memaksanya menikah dengan lelaki berumur 40 tahun, demi apa yang dia sebut “alasan keuangan.”

Kini Nayela harus menanggung akibatnya, bersama puluhan gadis lainnya yang berjuang melawan desakan menikah dini dan sektor kesehatan ibu yang lemah.
Menurut Sadia Fayeq Ayubi, anak-anak gadis yang dipaksa menikah berumur antara 13 dan 17 tahun, dan seringkali hamil antara 17 dan 19 tahun.

Angka itu ditempatkan dalam perspektif lebih tajam bila dilihat bersama angka kematian ibu secara nasional: satu dari 50 perempuan Afghanistan kemungkinan besar meninggal karena penyebab terkait kehamilan, menurut Survei Kematian Afghanistan 2010. Risiko kematian terkait kehamilan lima kali lebih tinggi di daerah pedesaan ketimbang di kota dan metropolitan.

Namun, tingkat kematian ibu berdasarkan survey itu 327 per 100.000 jiwa di daerah yang disurvei –mengecualikan daerah-daerah terpapar konflik. Angka ini secara signifikan lebih rendah ketimbang 1.4000 per 100.000 jiwa kelahiran hidup yang dikeluarkan badan-badan PBB dan Bank Dunia pada tahun yang sama.

Sementara itu, angka perceraian, bunuh diri, dan bakar diri terus meningkat, ujar Parwin Rahimi, yang bertugas di bagian dukungan perempuan di Komisi Hak Asasi Manusia Independen Afghanistan (AIHRC).

Pada 2010, mantan Wakil Menteri Kesehatan Faizullah Kakar merampungkan sebuah studi berbasis laporan rumahsakit dan catatan Kementerian Kesehatan. Hasilnya menunjukkan lebih dari 2.300 perempuan dan anak gadis pada rentang usia 15-40 tahun mencoba bunuh diri saban tahun.

Pada tahun yang sama, 100 kasus bakar diri terdata di Rumahsakit Kota Herat –76 dari mereka tewas karena luka bakar. Para ahli dan pembela menduga pernikahan dini memainkan peran dalam mendorong peningkatan angka perempuan yang melakukan tindakan nekat dan seringkali fatal itu.

Rahimi meyakini, anak-anak gadis bisa dinikahkan seusia 16 tahun dan diizinkan membangun keluarga adalah “cacat hukum”.

Sebagian besar pengantin remaja ini menghadapi eksploitasi dan kekerasan yang tak terbayangkan oleh suami dan mertua mereka. Mereka memiliki sedikit akses pada keadilan, dan seringkali kisah mereka tak tercatat.

Pernikahan dini juga bisa menjelaskan tingginya angka putus sekolah di antara anak-anak gadis di Afghanistan –menurut organisasi pembangunan internasional BRAC, 82 persen gadis Afghanistan putus sekolah sebelum kelas enam.

Kementerian Pendidikan menyatakan, situasinya lebih buruk di daerah pedesaan, tempat anak-anak gadis jarang menyelesaikan sekolah. Taksirannya, 70 persen perempuan Afghanistan buta huruf. Kendati sebagian besar perempuan menyerah pada nasib, beberapa melawan.

Mahjooba, 19 tahun, dipaksa bertunangan dengan sepupunya saat dia masih kecil. Ketika dia menolak menikah, keluarganya melakukan kekerasan.
“Saya terus sekolah sampai kelas sembilan. Saya lulus ujian untuk masuk sekolah perawat. Ketika keluarga dari bibi saya tahu, mereka tak mau saya meneruskan sekolah. Tapi saya tak setuju dengan keputusan mereka. Saya diceraikan,” tuturnya.

AIHRC terus mendesak pendaftaran pernikahan di pengadilan sebagai solusi untuk pernikahan anak.


*Abida M. Telaee menulis untuk Killid, sebuah kelompok media independen Afghanistan yang bermitra dengan IPS.


Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Baca 460 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the taskJoomla CAPTCHA
Video
Google+
Find us on Facebook
Follow Us