Aneka
TABLOID SUARA PEREMPUAN PAPUA | Jl. Bosnik - Puskopad Tanah Hitam Abepura - Jayapura - Papua | Telp/Fax. (0967) 584154

Jumat, 12 Oktober 2012 14:47

Sambutan Perpisahan Pastor John Djonga

Ditulis oleh  Paskalis Keagop
Taksir item ini
(0 pilihan)

Sudah 12 tahun Pastor John Djonga, Pr. bertugas di Dekenat Keerom. Wilayah dengan banyak masalah. Dia pastor dengan banyak julukan: Pastor perempuan, Pastor politik, Pastor anak-anak, Pastor OPM, Pastor LSM, Pastor HAM, Pastor Lingkungan dan masih banyak lagi. Pada Jumat, 24 Agustus 2012 lalu, ia merayakan perpisahan untuk bertugas ke tempat baru.

ACARA perpisahan sekaligus peresmian Sekretariat Dekenat Keerom di Arso dihadiri banyak pihak. Dalam satu bangunan itu terdiri dari empat kamar tidur bagi anak-anak sekolah, sebuah ruang kantor, sebuah dapur, sebuah ruang untuk Radio Komunitas yang mulai menyiar sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 10.00 malam dan sebuah ruang kerja untuk Aliansi Demokrasi untuk Papua.

“Sekretariat Dekenat ini bukan hanya untuk orang Katolik, tapi untuk semua orang yang bekerja untuk Keerom ke depan”, kata Pastor John Djonga saat penyerahan kunci kepada pastor penggantinya. Pastor Paroki Arso, John Djonga, Pr., dipindahkan  ke Kabupaten Yahukimo untuk melayani 6.000 umat Katolik yang ada di sana.

Undangan yang hadir diantaranya: Bupati Keerom, Yusuf Wally, Komandan Kodim 1701/Jayapura, Letkol. Inf. Rano Tilaar, Komandan Korem 172 PYW Kolonel Inf. Joppye Onesimus Wayangkau, Polres Keerom, anggota MRP Wiro Watken, anggota MRP Wiro Watken, anggota DPRD Keerom, Kondrat Gusbager, mantan Bupati Keerom, Celsius Watae, Ketua Dewan Adat Keerom Hubertus Kwambre, para pastor, suster,  pendeta, wartawan, mama-mama dan anak-anak sekolah di Arso, Waris, Senggi dan lainnya.

Dari para undangan yang hadir dalam acara perpisahan itu, sebagian mendapat kesempatan menyampaikan sambutan perpisahan.

Ketua Dewan Adat Keerom, Hubertus Kwambre: saya pertama kali bertemu John Djonga di Timika. Saat itu, dia masih Frater. Tapi setelah pentahbisan menjadi imam, kemudian bertemu di Arso. Dia sangat dekat dengan rakyat, dan untuk ukuran Papua, kita susah dapat orang seperti ini.

Pastor John Djonga sangat berperan dalam memperkuat Dewan Adat Keerom. Kondisi Keerom kadang-kadang kurang aman. Karena itu para pemimpin Gereja harus bekerja serius untuk memberikan rasa aman bagi rakyat Keerom.

Pastor John Djonga boleh pindah tugas di Wamena, tetapi tetap menjadi warga Kampung Damai di Keerom – yang telah pastor buka sendiri. Kami hanya ucapkan selamat jalan.

Ketua PGGP Wilayah Keerom, Pendeta Eddy Togotli: kami ucapkan terima kasih kepada Pastor John Djonga, Pr. – yang sudah berkarya selama 12 tahun di Keerom. Sejak 1983, saya dengan Pastor John bekerja banyak hal yang baik maupun yang buruk. Dan semua hal yang kita sudah capai ini, Pastor John tidak akan bawa, dan akan tetap tinggal di sini – dan diteruskan saja oleh siapa saja yang ada di sini.

Kerjakanlah apa yang bisa dikerjakan sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masing. Semua hal sudah Pastor John kerjakan dan sediakan untuk kita teruskan.

Orang-orangtua dan berbagai pihak sudah bertemu dengan Uskup Jayapura untuk membatalkan pemindahan Pastor John Djonga dari Dekenat Keerom, tetapi tidak bisa. Alasannya, jangan sampai akar John menjalar jauh dan tertanam kuat.

Komandan Korem 172 PYW Kolonel Inf. Joppye Onesimus Wayangkau: mungkin keadaan hari ini kita semakin baik dan maju dari apa yang telah dilakukan banyak pihak di waktu lalu. Dan untuk maju, kita tidak mungkin terus menyesali hal-hal yang pernah terjadi di waktu lalu. Tapi kita harus memulai dengan pekerjaan baru.

Di negara manapun di dunia ini, wilayah perbatasan antara dua negara selalu menjadi perhatian negara, termasuk Kabupaten Keerom di Papua yang berada di wilayah perbatasan antara RI – PNG. Sehingga apa saja yang terjadi di Keerom selalu menjadi perhatian banyak pihak secara nasional dan internasional.

Bukan di Keerom saja, tapi di Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia juga begitu. Terjadi masalah kecil saja tentang tenaga kerja Indonesia, bisa jadi berita besar di mana-mana karena memang berada di wilayah perbatasan.

Saya ditugaskan sebagai Komandan Korem untuk membenahi banyak hal keamanan di wilayah perbatasan, seperti pos-pos tentara yang ada di mana-mana, terutama di Keerom. Tetapi saat upaya pembenahan dilakukan, terjadi pula penembakan untuk mau menyatakan bahwa jika tidak ada pos TNI di kampung-kampung, siapa yang akan jamin keamanan, dan itu sebagai bukti untuk mereka mau menyatakan bahwa, makanya kenapa pos-pos ditiadakan, sehingga pos TNI harus tetap ada.

Hanya TNI dan Polri yang diberi kewenangan oleh negara untuk memegang senjata, termasuk beberapa pihak atas izin Kapolri dan Panglima TNI.

Saya berpesan agar jangan adik-adik di Keerom dimanfaatkan oleh orang-orang yang punya kepentingan pribadi untuk melakukan hal-hal yang hanya untuk merugikan diri sendiri dan masyarakat Keerom pada umumnya.

Pastor Paroki Dekenat Keerom, John Djonga, Pr.: saya sudah bertugas cukup lama selama 12 tahun di Keerom, dan ini sudah terlalu lama, sehingga saya minta Uskup Jayapura untuk memindahkan saya ke tempat tugas yang baru.

Usulan perpindahan saya tidak melalui proses panjang. Saya bisa langsung pindah saja. Saya dipindahkan dengan gantian dua imam yang akan bertugas di Keerom.

Saya minta maaf karena selama ini, selalu menyinggung perasaan banyak orang. Selama 12 tahun bertugas dalam pastoral, diri saya berintegrasi dengan banyak dimensi: religi, ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, demokrasi, HAM, di wilayah dekenat Keerom. Saya akan pergi untuk melayani 6.000 umat Katolik di wilayah Yahukimo dan Wamena yang saat ini tidak ada imam.

Lembaga adat digunakan untuk kepentingan politik itu harus dihentikan. Semakin hari praktek kehidupan adat semakin merosot. Kita tidak pernah melihat pesta-pesta adat keerom. Kini bahkan setiap saat terjadi permusuhan antarkampung-kampung asli di Keerom. Masih ada saling curiga antarlembaga di Keerom.

Siapapun yang bekerja di Keerom sebagai apa saja: pemerintah, tentara, polisii, LSM, rohaniawan, adat, petani, pengusaha itu adalah pekerjaan kemanusiaan. Semua yang bekerja it akan berujung pada manusia.

Tantangan kemanusiaan di Keerom semakin besar. Karena itu, mari kita tetap melanjutkan karya pastoral kita dengan mengintegrasikan berbagai persoalan dalam pelayanan pastoral untuk pemenuhan hak-hak dasar masyarakat yang saat ini sedang menunggu pelayanan pemerintah.

Bagi TNI dan Polri, jalankanlah tugas sesuai standar-standar konstitusional tanpa kekerasan.

Baca 938 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the taskJoomla CAPTCHA
Video
Google+
Find us on Facebook
Follow Us