|
Cerita Pendidikan Gratis dari Kali Bian |
|
|
|
|
Oleh Agapitus Batbual,Gabriel Maniagasi
|
|
Kamis, 05 April 2012 08:53 |
|
Mengelola pendidikan di kampu ng terpencil bukan perkara gampang, butuh komitmen dan semangat pengabdian yang pantang menyerah.
MENJABARKAN program prioritas pemerintah atas memang butuh nyali dan keberanian untuk menanggung resiko. Sebab sebuah keputusan yang diambil memiliki konsekuensi logis yang tentu punya dampak baik positif maupun negatif.
Terkait dengan itu, di pesisir Kali Bian Distrik Muting Kabupaten Merauke, ada sebuah sekolah yang mencoba menerapkan pendidikan gratis bagi seluruh siswanya. Hal itu dilakukan mengingat kondisi warga masyarakat di sana yang tidak mampu membiayai anak-anaknya untuk mengikuti pendidikan dasar.
|
|
Last Updated on Kamis, 12 April 2012 09:42 |
|
|
Oleh Paskalis Keagop ( Boven Digoel )
|
|
Selasa, 10 April 2012 02:12 |
|
Banyak guru saat ini tidak mau bertugas di daerah yang tidak ada signal telkomsel. Mereka lebih senang bertugas di daerah-daerah yang signal teleponnya kuat.
GURU Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik Getentiri, Kabupaten Boven Digoel, Amandus Barayap mengatakan minat pengabdian guru-guru jaman dulu dan sekarang sangat berbeda. Guru-guru jaman dulu lulusan KPG, KPA maupun Sekolah Pendidikan Guru dulu bersedia ditugaskan di mana saja, walau di daerah terpencil sekalipun mereka tetap bertugas tanpa mengeluh apapun. Mereka ke ibukota distrik untuk mengambil gaji dan jatah saja tidak setiap bulan, tetapi setiap tiga sampai enam bulan sekali baru mereka ke ibukota distrik ambil gaji dan jatah beras.
Guru-guru jaman dulu hidup menyesuaikan diri dengan masyarakat di tempat tugasnya. Mereka bertugas tidak hanya menjadi guru mengajar di sekolah, tetapi juga membantu aparat kampung mengerjakan administrasi pemerintahan kampung dan merangkap menjadi petugas gereja melayani umat setiap hari minggu dan hari-hari besar gereja lainnya.
|
|
|
|
|
Page 1 of 34 |